Romantisme dan Kejayaan Barca Belum Berakhir!

The 6 cups

Banyak kalangan yang berpendapat bahwa kejayaan dari sebuah era Barcelona telah berakhir. Pembantaian dengan aggregat 7-0 oleh Bayern Munchen di semifinal Liga Champions menjadi bukti nyata banyak pihak berspekulasi demikian. Namun terpenting, apakah bisa kejayaan suatu klub diukr dengan hanya 2×90 menit dengan satu lawan?

Pada 5 tahun terakhir, sejak diarsiteki oleh Pep Guardiola, Barcelona menjadi raksasa sepakbola yang terkenal dengan ‘misteri’ Tiki-Taka. Semua tim yang berhadapan dengan Barca (di musim perdana Pep, 2008-09) harus bertekuk lutut untuk mengakui kesolidan penguasaan bola dari Barcelona. Alhasil di musim perdananya, Pep sukses menyabet semua tropi yang ada di dunia sepakbola (atau biasa dikenal dengan istilah sextuple, 6 gelar dalam satu musim) -termasuk piala Dunia Antarklub yang merupakan kali pertama dalam sejarah klub-. Hal ini merupakan pertama dan satu-satunya hingga sat ini dilakukan oleh FC Barcelona. Tim terbaik dunia? Jelas!

0809

Masuk ke musim berikutnya, 2009-10. Di musim ini perjuangan Guardiola sungguh sangat berat. Dikarenakan harus memeprtahankan gelar, tidak ada kata meningkatkan pada musim ini. Kenapa? Ya jelas karena musim sebelumnya telah ‘sempurna’. Memang kita bisa akui keabsahan dari kalimat “Mempertahankan lebih sulit daripada meningkatkan”. Tiki-taka mulai dikenal oleh tim Italia, Inter Milan. Di bawah kepemimpinan Jose Mourinho, Inter berhasil menghadang langkah Barca ke final UCL 2010 di Madrid. Barcelona masih terbaik? Masih. Buktinya? Masih ada tropi di musim ini.

0910

Lanjut ke musim 2010-11. Barca kembali menatap musim dengan target ‘meningkatkan’. Di musim ini, pasukan Pep Guardiola berhasil mengembalikan tropi UCL ke Camp Nou setelah mengalahkan MU di final Wembley 2011 dengan skor 3-1. Barca yang terbaik? Tentu. Ingat! Dari awal musim kepelatihan Pep hingga musim 2010-11 Barca selalu menjadi kampiun di La Liga Spanyol.

1011

Melangkah ke musim 2011-12. Misteri tiki-taka pun sedikit demi sedikit bisa terpecahkan. Di musim ini, Chelsea di bawah asuhan Roberto Di Matteo ‘secara halus’ berhasil meruntuhkan Barca. Chelsea lolos ke final UCL Munich 2012 dan keluar sebagai juara. Di musim ini, Barca hanya meraih 1 gelar lewat ajang Copa Del Rey. Masih berjaya? Ya masih, toh ada tropi. Pada akhir musim 2011-12, Pep Guardiola yang kontraknya hanya satu musim-satu musim, mengumumkan untuk berhenti menahkodai kapal FC Barcelona dan memilih untuk istirahat selama satu tahun dari dunia sepakbola. Usai pengunduran Pep, direktur Barca pun langsung memberi tongkat estafet Pep kepada asistennya, Tito Vilanova.

1112

Tito Vilanova pun mulai menanggani Barca di musim 2012-13. Awal musim dilaluinya dengan sangat baik. Namun efektivitas tim sedikit terganggu dengan absennya Tito yang sakit dan harus menjalani perawatan di New York. Tapi, hal ini segera diatasi oleh asistennya, Jordi Roura. Pada musim inilah mulai spekulasi kuat bermunculan tentang akhir dari kejayaan Barcelona. Dari 6 pertandingan El Clasico, Barca hanya menang 1 kali, seri 2 kali, dan kalah 3 kali. Berbanding terbalik dari musim-musim sebelumnya. Ditambah lagi dengan kekalahan Barca dari AC Milan di leg 1 babak 16 besar UCL. Dan puncaknya yaitu ketika harus menanggung malu, saat kalah 4-0 dan 0-3 atas Bayern Munchen.

Era Barca berakhir? Tetap belum berakhir. Mengapa saya berkata demikian? Sesuai dengan fakta, realita, dan kenyataan, bahwa kejayaan suatu tim tolak ukurnya bukan lah hanya segelintir pertandingan. Barca masih ada gelar pada musim ini (La Liga). Kecuali Barca tidak memenangi gelar hinga beberapa musim, Mungkin baru bisa dikatakan era-nya berakhir. Tapi, musim ini Barca masih memiliki gelar. Tropi liga, yang merupakan tujuan dan prioritas utama setiap tim. Pasalnya liga inilah yang dimainkan tim tiap minggunya. Bukan ajang-ajang lainnya yang hanya sebagai tambahan dan pelengkap. Lalu, masih mengatakan era Barca berakhir? IQ? Logika pun bermain.

campionsFCB

Barca masih sangat dominan dengan penguasaan bola hasil dari tiki-taka. Namun hal inilah yang harus dibenahi oleh staf pelatif untuk menatap musim depan. Keefektifan harus ditingkatkan. Tidak hanya sekedar keindahan romantisme permainan, namun kefektifan harus bisa dicapai Barca demi mencipatkan gol, gol, dan gol. Semoga Barca tetap bisa terus berjaya dan menjaga romantisme keindahan permainan dalam maupun luar lapangan. Visca Barca! #MesQueUnClub #KeepBlaugranaFlagFlyingHigh #SomUnEquip

“Tak masuk akal menganalisis kiprah lima tahun hanya dengan pertimbangan satu pertandingan di Muenchen. Bagiku, akhir sebuah era terjadi jika sudah beberapa tahun mundur dan tak lagi memenangkan gelar” Andres Iniesta

“Saya pikir itu pemikiran bodoh yang konyol. Tidak ada yang nama ‘akhir sebuah siklus'” Johan Cruyff

“Orang-orang berbicara soal berakhirnya siklus Barcelona. Tapi, kami justru kembali memenangi trofi La Liga, trofi yang juga menjadi bukti konsistensi kami” Andoni Zubizarreta

Akhirnya, FCBI pun Menanti

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya impian menjadi Penulis (Writer) di front page web Komunitas Fans Club Barcelona Indonesia terwujud hari ini. Diumumkan lewat forumnya bahwa 3 orang terpilih menjadi penulis di web resmi.

Berikut 3 orang yang lolos seleksi dan terpilih menjadi Writer FCBI:

-Satria Pradana Putra (initialsatsat) 027-2457-08468
-Hafis Alrafi Irsal (Hafis) 017-4838-11387
-Louis Yosen Primsa T. (Primsa82) 002-5635-14264

Terima kasih keluarga besar FCBI yang telah memberikan amanah kepada kami untuk jadi bagian dalam Forum Team. Kita semua berusaha semaksimal mungkin dalam memajukan FCBI menuju yang lebih baik.

Thank you very much, We are Cules! We are Family!

Visca Barca, Visca FCBI!!!

SPAIN | UEFA Euro 2012™ Winner

Spanyol Juara Eropa 2012!

Kiev menjadi saksi sebuah sejarah baru tercipta. Spanyol kembali lagi menghipnotis dunia sepakbola dengan penampilan dahsyat mereka.

Dengan sebuah permainan yang luar biasa. Dengan sebuah hasil yang luar biasa. Spanyol berhasil memecahkan mitos selama 44 tahun dan menciptakan sejarah baru: juara Eropa secara berurutan.

Label membosankan yang ada di dalam tubuh Spanyol sempat diperkirakan akan muncul kembali setelah Vicente Del Bosque kembali memutuskan untuk tidak memainkan satu striker pun di starting line-upnya. Namun, semua anggapan ini hilang semenjak menit pertama.

Italia tampak keteteran menghadapi Spanyol yang langsung bermain menyerang. Tanpa henti, mereka terus menguasi bola dan menggedor pertahanan Italia yang tampak kewalahan dengan passing-passing serta kecepatan para pemain lawan. Azzuri memang tetap punya beberapa peluang. Namun semuanya terlihat sia-sia saja. Tidak berbahaya.

Dan di menit ke 13, pertahanan Italia pun runtuh. Xavi dan Alvaro Arbeloa memainkan umpan cepat, yang dilanjutkan dengan Andres Iniesta melepaskan sebuah umpan yang luar biasa pada Cesc Fabregas. Nama terakhir ini melepaskan sebuah crossing sederhana, yang diselesaikan dengan sempurna oleh sundulan David Silva. 1-0.

What a play.

Italia kemudian seolah terbangun dan mencoba untuk menyerang. Namun corner demi corner yang mereka lakukan pun terbuang. Dan Spanyol selamat. Mimpi buruk Italia semakin terasa setelah Chiellini harus diganti setelah mengalami cedera. Balzaretti masuk.

Setelah pergantian ini, permainan Italia justru malah membaik. Mereka mulai menyerang dan terus menyerang. Tetapi, Iker Casillas mampu tampil sempurna di bawah mistar gawang dan menghentikan semua peluang yang didapat melalui Antonio Cassano dan Mario Balotelli.

Spanyol tetap terlihat berbahaya. Beberapa kali serangan balik mereka nyaris diselesaikan oleh Fabregas dan Silva untuk mendapatkan gol kedua.

Dan gol tersebut pun akhirnya datang beberapa menit sebelum babak pertama usai. Fabregas meneruskan bola dengan sundulan ke Jordi Alba, yang kemudian memberikan bola pada Xavi. Orang ini pun menunjukkan kelasnya dengan kembali memberikan bola brilian pada Alba yang tidak berhenti berlari. Penyelesaian yang hebat dari Alba. 2-0.

Babak pertama berakhir, satu setengah tangan Spanyol sudah berada di trofi.

Cesara Prandelli kemudian memasukkan Antonio Di Natale untuk menggantikan Cassano di babak kedua. Dan pengaruhnya pun langsung terasa. Sang penyerang menciptakan peluang dengan sundulannya yang masih sedikit di atas gawang.

Kedua tim kemudian saling bergantian menyerang. Italia sama sekali tidak ingin menyerah, dan Spanyol ingin menambah gol untuk menyelesaikan segalanya.

Thiago Motta pun kemudian dimasukkan untuk menggantikan Montolivo. Dan ini adalah pergantian terakhir yang dimiliki Italia.

Dan perjudian ini pun berakibat fatal: Motta cedera dan Italia pun harus bermain dengan 10 orang pada sekitar setengah jam terakhir.

Di tengah keadaan yang nyaris tidak memungkinkan lagi bagi Italia untuk bangkit ini, Spanyol pun memasukkan senjata rahasia mereka: Fernando Torres.

Tanpa menunggu lama, Torres pun menyelesaikan umpan cantik Xavi di tengah penguasaan bola Spanyol yang luar biasa. Dengan penyelesaian ala striker sejati, gol ketiga pun tercipta. 3-0.

Juan Mata kemudian dimasukkan untuk menggantikan Andres Iniesta beberapa saat sebelum pertandingan berakhir, dan ia pun langsung menciptakan gol penutup. Sebuah umpan mudah dari Torres membuat Gianluigi Buffon harus rela kebobolan empat gol dalam final ini. Yang terbanyak sepanjang sejarah.

Spanyol pun menciptakan sebuah sejarah. Juara Eropa dua kali berurutan. Dan hattrick Euro – Piala Dunia – Euro secara berurutan. Luar Biasa. VIVA ESPANA!

Galeri Foto:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Official Broadcaster UEFA Euro 2012

RCTI sponsored by Djarum Super Soccer

City Juara Liga Inggris Setelah 44 Tahun Penantian

Sungguh pertandingan yang luar biasa yang tersajikan pada matchday terakhir liga Inggris tadi malam. Kedua tim dari kota Manchester memperubutkan tahta singasana Liga Inggris.

Manchester City keluar sebagai juara Liga Inggris 2011/12 setelah di laga terakhirnya berhasil menang dramatis dari Queens Park Rangers dengan skor akhir 3-2 di Etihad, Minggu (13/5/2012) malam WIB.

Dan baru pertama kali ini di era Premier League, juara ditentukan oleh selisih gol. Manchester City dan Manchester United mengakhiri musim dengan poin sama, namun City keluar sebagai juara lantaran unggul selisih gol.

Ini baru pertama kali terjadi di era Premier League. Pasukan Biru Langit keluar sebagai juara Liga Inggris 2011/12 setelah di laga terakhirnya berhasil menang dramatis dari Queens Park Rangers dengan skor akhir 3-2 di Etihad Stadium, Minggu (13/5/2012) malam WIB.

City kini mengoleksi 89 poin, sama dengan Manchester United, yang di laga lainnya mengalahkan Sunderland 0-1, namun City unggul selisih gol.

Sementara buat QPR, meski kalah tetap selamat dari degradasi dengan finis di peringkat 17 dan mengumpulkan 37 poin.

Di laga ini, City tampil sangat dominan dengan menguasai bola hingga 81 persen dengan total 44 tembakan dan 15 di antaranya mengarah ke gawang. Sedangkan QPR cuma melepas tiga tembakan dan semuanya mengarah ke sasaran.

Awalnya, City sangat sulit menembus pertahanan QPR yang menumpuk banyak pemain di belakang. Namun Pablo Zabaleta memecah kebuntuan di akhir babak pertama.

Tapi QPR berhasil menyamakan kedudukan lewat Djibril Cisse saat kehilangan Joey Barton yang dikartu merah dan berbalik unggul lewat Jamie Mackie.

Gelar juara baru bisa dipastikan di masa injury time setelah Edin Dzeko dan Sergio Aguero mencetak dua gol tambahan untuk tim tuan rumah.

Dengan hasil ini, jelas Liga Inggris masih menjadi liga terbaik di dunia. Pertandingan yang sangat luar biasa, harus mengganti-ganti cahnnel TV untuk melihat pertandingan kedua tim Manchester.

Galeri Foto:

Slideshow Foto:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

#CHAMPIONS 2011/2012

Alfred Riedl: Sang Disipliner Asal Austria

Tentu nama Alfred Riedl tidak asing lagi bagi kita, bukan? Nama yang telah membawa citra sepakbola Indonesia dan euforia penonton ke puncak kejayaannya. Alfred Riedl merupakan pelatih kepala Timnas Indonesia saat berada di ajang Piala AFF Suzuki Cup 2010.

Pelatih berkebangsaan Austria itu telah mengantarkan Indonesia menuju final Piala AFF 2010, walaupun harus kalah agregat 2-4 dari Malaysia.

Setelah Indonesia menjadi Runner-up di piala AFF 2010, Alfred Riedl menargetkan Ineonesia di kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia.

Namun, sebelum target pelatih yang disiplin itu tercapai, PSSI memecatnya. Tapi, tidak ada alasan yang pasti dari PSSI memecat pelatih bertangan dingin itu. Masyarakat pun terkejut dengan aksi PSSI itu.

Setelah kursi kepemimpinan Alfred Riedl telah hilang, PSSI memberikan kepercayaan kepada Wim Rijsbergen (mantan pelatih PSM Makassar).

Riedl yang terkejut dengan pemecatan dirinya oleh PSSI, melaporkan masalah tersebut ke FIFA. Kini Alfred Riedl telah kembali menjabat sebagai pelatih kepala Laos (negara yang dilatihnya sebelum Indonesia).

Setelah hasil yang kurang bagus didapat Timnas Indonesia selama dilatih WIm, masyarakat pun merindukan Sang Disipliner Asal Austria tersebut.

Namun, PSSI tidak menghiraukan kerinduan rakyat kepada Alfred Riedl. Sekarang nasi telah menjadi bubur, pria asal Austria itu telah melatih Laos. Hanya satu kalimat yang bisa kita katakan kepada Alfred Riedl, We Miss You Alfred Riedl.