Meraih Puncak Kenikmatan Shalat

Seorang pemuda masuk masjid. Kemudian ia shalat. Setelah shalat ia menghampiri Rasulullah yang sedang duduk di pinggir masjid seraya mengucapkan salam.

Rasulullah menjawab salamnya kemudian mengatakan sesuatu, “Ulangi lagi (shalatnya), karena sesungguhnya kamu belum shalat”.

Si pemuda pun segera memenuhi titah Rasulullah. Ia shalat kembali sebagaimana intruksi Rasulullah. Selesai shalat ia menghampiri Rasul sembari mengucapkan salam kembali.

Rasulullah menjawab salamnya kemudian mengatakan sesuatu, “Ulangi lagi (shalatnya), karena sesungguhnya kamu belum shalat”.

Pemuda itu kembali shalat untuk yang kedua kalinya meskipun di benaknya ada tanda tanya. Selesai shalat, segera ia menghampiri Rasulullah dan mengucapkan salam.

Seperti sebelumnya, lagi-lagi Rasulullah menyuruh pemuda itu untuk mengulangi shalat. Ia penasaran, ada apa dengan Rasulullah, kenapa menyuruh shalat lagi padahal ia sudah shalat?

“Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutus Engkau dengan membawa kebenaran, ajarkanlah kepadaku!” Demikian si laki-laki itu meminta pengajaran kepada Rasulullah SAW.

Maka, Rasulullah memberi nasehat kepadanya, “Jika kamu hendak shalat, sempurnakanlah wudhu. Kemudian menghadaplah ke kiblat dan segera takbir. Lalu, bacalah ayat Quran yang kamu mudah membacanya”.

Beliau melanjutkan nasehatnya, “Kemudian rukuklah sampai kamu merasa tenang ketika sedang rukuk. Bangkitlah dari rukuk sehingga kamu berdiri tegak. Lalu, sujudlah kamu sehingga kamu merasa tenang dalam keadaan sujud. Kemudian, bangkitlah dari sujud sehingga kamu merasa tenang dalam keadaan duduk. Kemudian, sujudlah sehingga kamu merasa tenang dalam keadaan sujud”.

Setelah itu, Rasulullah menutup nasehatnya dengan perintah. “Kerjakalah hal tersebut dalam setiap shalatmu!”

Rasulullah menyuruh orang itu untuk mengulangi shalatnya kembali karena sesunggunya pemuda itu belum shalat. Padahal, ia jelas-jelas sudah melaksanakan shalat. Kenapa demikian?

Setelah pemuda itu meminta pengajaran, Rasulullah mengajarkan tata cara shalat dan tentang keharusan shalat dengan tenang. Apa maksud Rasulullah tersebut? Mungkin saja pemuda tersebut dalam gerakannya tidak benar atau tidak tenang. Seperti burung mematuk makanannya.

Kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tersebut menyuratkan pelajaran bahwa shalat itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan tenang serta tidak buru-buru. Grasak-grusuk dan  tidak tenang sehingga gerakan shalat tidak benar berarti sama saja belum melaksanakan shalat.

Maka, laksanakanlah shalat dengan ketenangan yang mendalam sehingga terasa manisnya iman dalam shalat. Karena shalat sesungguhnya interaksi kita kepada Allah SWT, Sang Pencipta. Itulah kunci untuk meraih puncak kenikmatan shalat.

About Hafis Alrafi

Hafis Alrafi Irsal, usually called Hafis.
This entry was posted in Islamic and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s