(Terlalu) Percaya Diri dengan Hilang Rasa Malu itu Beda Tipis

Melihat dari judul saja saya cukup sulit untuk mencernanya. Apalagi untuk memulai tulisan ini. Tapi saya coba perlahan untuk mengembalikan memori kenapa saya membuat tulisan ini. Tulisan ini didasari ketika teman kelas saya terlalu dan sangat berlebihan dalam memberi ucapan selamat kepada wali kelas saya yang berulang tahun. Awalnya cewek-cewek dikelas membuat suatu hal yang mungkin bisa dikatakan surprise untuk merayakan ultah sang guru. Perlu diketahui bahwa wali kelas saya adalah seorang guru Matematika.

Waktu kejadian ini adalah hari Selasa. Jam pelajaran matematika di hari tersebut adalah yang pertama. Tepat pukul 6.45 kegiatan belajar dimulai. Sebelumnya kue ultah telah dibeli oleh anak-anak cewek dan disembunyikan di belakang kelas. Proses belajar pun berlangsung dengan normal dan seperti biasanya. Namun antara jam-jam pelajaran, para murid lainnya pun mulai meribut. Ada yang bermain, ngobrol, keluar-masuk kelas, hingga mematikan lampu ruangan kelas. Otomatis sang guru bertanya kebingungan kenapa lampu, yang padahal ruangan gelap tanpa benda itu, dimatikan.

Kemudian tanpa disadari oleh walas, kue ulang tahun pun keluar dengan lilin yang sudah menyala. Nah, inilah dimulainya maksud dari judul tulisan saya ini. Ketika kue sudah dikeluarkan, satu dari teman saya bertingkah undefined dengan meloncat-loncat sambil nyanyi ulang tahun menuju meja guru dan memeluk sang ibu sambil mengucapkan selamat ultah (padahal yang lain masih dibelakang). Bisa dibayangkan bagaimana lucunya tingkah satu teman saya ini. Memang ini suatu hal khusus (disaat ada yang ulang tahun). Namun kenapa dia harus duluan sendirian menuju singasana guru? Hal inilah yang membuat saya mengatakan kalau terlalu percaya diri dengan hilang rasa malu itu beda-beda tipis. Just my opini…hahahah

Sedikit untuk menutup tulisan yang tidak berstruktur ini dengan sebuah quote.

Manusia akan tetap dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara. Karena rasa malu itulah yang menyebabkan seseorang menjauhi maksiat, selalu dalam ketaatan dan kebaikan. Dan jika rasa malu ini telah hilang dari seseorang, maka hilanglah berbagai kebaikan dari dirinya.

About Hafis Alrafi

Hafis Alrafi Irsal, usually called Hafis.
This entry was posted in Article and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s