Belajar untuk Tidak Sekadar Belajar

Kali ini saya mau cerita tentang gimana cara belajar saya saat masih SMA dulu sampai saya menemukan cara belajar yang tepat untuk belajar apapun. Ya, BELAJAR APAPUN. Singkatnya, bagaimana saya bisa berhijrah dari cara belajar yang keliru hingga ke cara belajar yang jauh lebih mangkus dan sangkil.

Pertama, saya mau cerita dulu gimana saya belajar saat SMA. Dulu, saya belajar hanya ketika ada PR dan mau ujian. Selain itu saya bisa dikatakan males baca buku buat sekadar belajar. Hal itu berlanjut hingga saya memasuki bangku kelas 3 SMA. Di zona akhir masa SMA itu sebenernya saya sadar kalo saya gak mungkin bisa lulus PTN lewat jalur undangan karena saya bisa memperkirakan posisi nilai saya dari semester 1 sampe 4. Namun, kesadaran itu tidak menggerakkan apa-apa. Hingga akhirnya semester 5 juga berlalu. Fyi, saya bilang saya gak mungkin lulus undangan adalah karena saya pengennya masuk STEI ITB dan lo semua bisa tau ketatnya masuk ke sana. Untuk tulisan pengalaman saya masuk ke PTN yang saya impikan, lo bisa baca di sini.

Memasuki Januari, awal semester 6, saya mencoba-coba untuk mencari cara belajar yang cepat dan bisa diandalkan untuk bisa ngejar ketertinggalan saya di sisa waktu yang ada. Btw, ini ceritanya saya lagi nyiapin diri buat bertempur di SBMPTN karena saya bilang tadi saya gak mungkin lulus lewat undangan. Nah, saya mulailah bergerilya mencari berbagai referensi cara belajar. Hingga akhirnya di bulan Maret saya nemuin nih suatu pencerahan tentang cara belajar yang saya pikir SANGAT logis. Saat itu saya denger kata-katanya Sabda dari Zenius tentang cara belajar yang bener umumnya dan persiapan ujian masuk PTN lebih khususnya. Nah, yang saya tangkep dari kata-katanya Sabda itu adalah persiapan SBMPTN itu BUTUH WAKTU. Lalu horrornya apa? Waktu yang dia bilang ideal itu adalah 6-8 bulan. Saat itu saya mulai ngitungin sisa berapa bulan lagi menuju ujian tersebut. Berkali-kali saya hitung berharap agar nyampe angka 6-8 bulan tersebut. Tapi gimana kenyataannya? Saat itu sudah Maret dan ujian masuk PTN itu bulan Juni, artinya HANYA ada sisa lebih kurang 3 bulan. Sangat sangat jauh dari waktu ideal yang dibilang Sabda. saya semakin penasaran. Emangnya ngapain aja sih waktu 6-8 bulan itu.

Inilah rahasianya. Tips dari Sabda itu kemudian saya kemas dengan gaya saya tanpa mengubah prinsip dasarnya. Intinya, lo butuh waktu buat persiapan SBMPTN ini. Mulai dari lo harus mengenal medan perangnya hingga menyiapkan senjata buat pertempuran tersebut. Kalo untuk medan perang SBMPTN ini, mungkin lo bisa baca tulisan saya yang lain tentang ujian yang sangat ketat itu di sini. Langsung saya bahas untuk senjata yang harus dipersiapkan. Hal PERTAMA yang harus lo pelajari adalah Basic Skills. Nah basic skills ini adalah suatu fondasi yang harus bener-bener kokoh ada dalam kepala lo. Basic skills ini berupa cara berpikir yang kritis dan logis. Untuk basic skills, lo harus bener-bener nguasain dulu baru lanjut ke step selanjutnya. Kira-kira butuh waktu 1-2 bulan untuk belajar basic skills ini sampai mantep. KEDUA, kalo udah mantap di basic skills itu, lo bisa lanjut ke belajar Matematika Dasar. Kenapa matematika dasar? karena di matematika dasar ini lo kayak ngeaplikasiin langsung dari basic skills yang udah lo pelajari. Lalu KETIGA lo belajar verbal skills, yang saya tangkep yaitu belajar bahasa Indonesia dan Inggris yang baik dan benar. Setelah semua itu dicicipi kira-kira 2-3 bulan, lo bisa masuk nih ke belajar materi SAINTEK kalo pengen jurusan IPA dan SOSHUM kalo pengen IPS. Tapi untuk mempelajarinya mulai dari bab per bab, latihan soal di bab itu sampai bener-bener jago, lalu masuk ke soal campuran.

Setelah saya tercerahkan, sadarlah saya memang waktu yang dibutuhkan gak cukup. Dan singkat cerita saya emang ga lulus di tahun pertama itu. Di saat itu saya emang kecewa, tapi lebih dalam lagi ada RASA OPTIMIS itu dalam diri saya serta dilapisi dengan keinginan, tekad, dan penasaran untuk kembali bertempur di jalur ini. Tentunya untuk kesempatan kedua, saya punya waktu yang ideal untuk mempersiapkan senjata tempur saya.

Mulailah saya membedah lebih detail cara belajar yang ditularkan Sabda ini. Mulai dari basic thinking yang bener-bener ia tekankan. Ternyata selama ini, cara berpikir saya masih banyak banget yang salah. Contohnya soal yang sangat simple tentang diagram venn yang menanyakan hubungan meja, kursi, lemari. Banyak dari kita, dan juga saya, yang jawab ketiganya beririsan, karena semuanya kan perabotan dan ada di dalam rumah. Lalu gimana sih jawaban yang benernya? Lu bisa liet video pembahasan Sabda di Zenius. Dari sana saya bener-bener tercerahkan dan semakin semangat untuk belajar basic thinking ini.

saya terus dan terus belajar sambil cari-cari tulisan Sabda yang mungkin bisa mencerahkan lagi. Nah, saya dapet nih suatu tulisan yang isinya bagaimana konsep belajar yang benar akan memberikan hasil yang luar biasa. Di sana juga dibilang bahwa bakat itu gak segitunya. Bakat itu bisa ditumbuhkan asalkan lo ada kemauan. Setelah saya baca sampe abis dan pahami lagi, ternyata konsep inilah yang dijelasin sebelumnya dalam persiapan SBMPTN. Konsep Deliberate Practice. Ringkasnya, Deliberate Practice ini seperti lo membagi-bagi apa yang lo pelajari. Misal, saat lo pengen jago main sepakbola, apakah lo harus tanding mulu? Jawabannya TIDAK. Tapi lo juga harus latihan seperti latihan fisik, latihan shooting, latihan dribbling, dan sebagainya. Dan untuk mengukur kemampuan latihan lo itulah dibutuhkan tanding. Nah analogi itu jika dibawa ke persiapan SBMPTN tadi yaitu sesi latihan lo itu seperti lo belajar materi bab per bab dan kemudian latihan soal campuran itu seperti lo tanding. Dan lebih gokilnya konsep ini adalah bisa digunain gak hanya buat belajar akademik. Untuk lebih detailnya konsep ini, bisa lo baca di sini.

Setelah saya menguasai konsep ini, sangat terasa cara belajar saya berubah dan lebih yakin. Lebih kurang 1 tahun gap year, saya pelajari itu semua. Dan memang, HASIL tidak pernah mengecewakan PROSES (tentunya diiringi doa dan kuasa-Nya), saya bisa lulus di PTN impian saya. Bukan itu aja yang saya dapet dari gap year, lebih dari itu saya tercerahkan dengan cara belajar dan berpikir saya yang lebih benar daripada sebelumnya.

Saat saya awal masuk kuliah dulu, saya masih seneng denger kata-katanya Sabda. Dan yang paling ngaruh buat saya hingga saat ini adalah tentang tiga jenis skill yang harus dimiliki mumpung masih muda. Pertama, Fundamental skills. Skill ini wajib dimiliki setiap orang. Fondasi dasar ini meliputi cara berpikir, logika, dan verbal. Kedua yaitu Special skills. Skill khusus terhadap suatu hal yang bisa diraih dengan deliberate practice tadi. Ketiga, Insightful skills. Yaitu mempelajari sesuatu tidak perlu mendalam tapi meluas dan mengerti esensi-esensinya.

Mulai dari konsep berpikir yang logis dan kritis hingga tiga jenis skill di atas, semua itulah yang selalu memotivasi saya untuk terus belajar. Dan terutama adalah insightful skill (insightful knowledge). Bagaimana kita harus mempunyai keluasan dalam ilmu. Tidak perlu mempelajari terlalu mendalam tapi tercerahkan dalam berbagai bidang. Intinya kita bisa melihat dunia dari berbagai sudut pandang. Karena cara pandang kita terhadap dunia itu yang bakal mempengaruhi keputusan-keputusan kita dalam sehari-hari.

Semoga sedikit pengalaman saya ini bisa memberi semangat buat lo semua untuk terus belajar dan terkhusus buat diri saya sendiri. saya pengen nutup cerita yang saya pikir lumayan panjang ini dengan kutipan dari Sastrawan besar Indonesia di bukunya yang telah diterjemahkan hampir puluhan bahasa di dunia.

“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.” -Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Iklan

Secangkir Kopi dan Perasaan yang Bersamaku Ketika Sunyi

Secangkir kopi

Bandung semakin dingin, malam pun berganti menuju pagi. Secangkir kopi hangat dan bacaan yang menarik tetap membuat gelap ini terasa menyala. Akhir-akhir ini Bandung lagi musim hujan yang tidak dapat ditebak kapan turunnya dan kapan redanya. Persis seperti perasaan seseorang yang datang ketika ingin dan pergi ketika sudah.

Gokil ga tuh pembukaannya wkwk. Malam ini saya mau ngebahas tentang kopi. Tadi saya abis nonton lagi film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody. Sebenarnya saya udah nonton film ini waktu baru rilis di bioskop Juli lalu. Tapi ntah kenapa tadi pengen nonton ini lagi karena bagi saya di film ini banyak kata2 yang saya suka apalagi ngelibatin kopi.

Btw saya udah suka kopi sejak 2013, kala itu saya masih SMA. Jadi, kira2 udah 4 tahun saya bersama kopi yang selalu nemenin malam saya menjadi lebih hangat dan menyala. Awalnya saya niat minum kopi sekadar buat bisa begadang untuk belajar atau ngerjain tugas sekolah. Namun, hari berganti hari, bulan demi bulan, dan tahun pun berganti, akhirnya kopi menjadi bagian yang ga bisa saya pisahkan di setiap malamnya. Terasa ada yang kurang jika pada malem itu saya ga nikmatin secangkir kopi.

Di film Filosofi Kopi 2, saya menemukan makna sejati dari kopi itu sendiri, “karena ada hal yang lebih penting daripada sekadar menyeduhnya yaitu menanam kopi”. Film yang merupakan sekuel dari film pertamanya ini, memberi kesan kepada kita bahwa setiap kopi yang tersaji di meja kita itu berasal dari para pemulia benih kopi (petani kopi) yang dengan penuh cinta menanam dan merawatnya hingga menjadi biji kopi. Hal lain yang juga disampaikan dalam film ini yaitu suatu pesan kepada pecinta sekaligus penikmat kopi bahwa dalam membuat setiap cangkir kopi akan ada perasaan yang terlibat di dalamnya.

Filosofi Kopi (Sumber: duniaku.net)

“Karena buat saya bikin kopi itu meditasi, bukan matematika” – Ben, Filosofi Kopi 2

Kopi juga tidak hanya sekadar minuman sesaat, tapi lebih dari itu kopi sejatinya untuk dinikmati bukan hanya diminum. Di akhir film ini, si Ben (Chicco Jerikho) menyampaikan satu hal bahwa ada satu filosofi yang ga pernah ditulis tapi selalu ada dalam setiap cangkir kopi, “Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa”.

SBMPTN vs UN, Apa Bedanya sih?

Halo temen-temen kelas 12, berhubung saat ini udah memasuki semester baru maka kalian para kelas 12 harus siap secara mental dan strategi menghadapi hiruk-pikuk tingkat akhir SMA. Kali ini saya ingin membahas satu hal penting yang bagi anak kelas 12 masih sering miskonsepsi dan baru sadar di akhir tahun alias telat paham. Yup, sesuai judulnya apa sih bedanya ujian SBMPTN dibanding dengan ujian UN? Sebelum masuk ke pembahasan, bagi kalian yang ingin liat cerita saya masuk PTN imipian saya, cek tulisan saya sebelum ini.

Oke kita masuk ke pembahasan topik. Kalian para kelas 12 udah tau gak ujian apa aja yang bakal kalian hadapi di kelas 12 ini nantinya? Ya, ada tiga ujian besar yang akan kalian hadapi (mungkin lebih, opsional). Ujian apa aja sih emangnya? Pertama, jelas Ujian Nasional (UN) yang kalian semua udah tau dan pastinya udah mulai was-was dengan ujian ini. Lalu yang kedua ada ujian masuk perguruan tinggi negeri, atau yang sering disebut dengan ujian SBMPTN. Ketiga, ada ujian Mandiri masuk perguruan tinggi. Nah pada kali ini, yang mau saya bahas adalah tipe ujian pertama dan kedua, tapi mungkin nantinya juga merembes ke bahasan ujian ketiga. Ready? Continue reading “SBMPTN vs UN, Apa Bedanya sih?”

Perjuangan Menuju Kampus Impian (STEI ITB 2016)

Poster semangatku untuk menuju kampus yang saya impikan. (Credits: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/)
Poster semangatku untuk menuju kampus yang saya impikan. (Credits: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/)

Cerita perjalanan sebuah perjuangan ini dimulai sekitar dua tahun lalu (puncaknya satu tahun yang lalu). Saat itu saya berada pada tingkatan tertinggi di sekolah menengaah pertama (baca: kelas 12). saya memulai kelas 12 tanpa pemahaman yang mendalam tentang bagaimana perjuangan masuk kampus impian itu. saya hanya sekadar ‘ingin’ tanpa usaha yang konkret, atau bahasa yang mudahnya ‘masih mengikuti arus’. Continue reading “Perjuangan Menuju Kampus Impian (STEI ITB 2016)”

“A Smooth Sea Never Made a Skilled Sailor”

a-smooth-sea-never-made-a-skilled-sailorDalam hidup tentu ada kalanya kita berada di atas dan ada pula kala kita berada di bawah. Namun kebanyakan orang lupa diri saat berada di atas dan penuh keluh kesah saat dirinya terdampar di bawah. Ingatlah jika dalam hidup tidak ada naik dan turun, itu artinya kamu mati! (If there is no ups and dows in life, it means you are dead).

Tentunya kita semua pernah berada di posisi ‘bawah’ dalam hidup kita. Merasa paling gagal, tidak diberi rizki, dan menganggap hidup ini terlalu kejam. Wahai saudaraku, jika kalian berada pada posisi itu bertenanglah dahulu. Jangan langsung mengeluh, bersedih hati, dan gundah gulana. Sebagai pribadi yang cerdas, kita melihat sebuah kegagalan sebagai suatu jatah dalam hidup kita untuk melihat dunia lebih luas lagi, sebagai intropeksi diri, dan sebagai bagian dalam hidup kita untuk menata kembali strategi menjalani kehidupan.

Kita tidak pernah tau rahasia Yang Mahakuasa. Namun, percayalah kalian bahwa apa yang Ia rencanakan kepada kalian jauh lebih mulia daripada apa yang terencana oleh diri kita. Sejatinya, kita hanya Ciptaan-Nya. Tentu, Sang Desainer terbaik akan sempurna dalam menyusun skenario hidup kita. Maka dari itu jika kita sedang dalam fase diuji, maka bersabarlah dan jika kita sedang dalam kebahagiaan, bersyukurlah. Percayalah, pemilik jagat raya ini tidak akan memberi ujian kepada kita di luar batas kemampuan kita. Ujian yang kita rasakan hari ini hanya sebagai bahan untuk mengasah dan menempa diri kita lebih baik lagi.

A smooth sea never made a skilled sailor. Habis gelap terbitlah terang. Sesungguhnya, setelah kesulitan ada kemudahan. Dan ingat, janji Allah itu benar!