Kehidupan Kampus Ganesha: Perjuangan Masuk (Part 1)

Kali ini aku ingin bercerita tentang kehidupan selama menjadi mahasiswa di kampus Ganesha ITB. Mulai dari perjuangan untuk bisa sampai ke sana, hingga cerita lulus dari kampus itu. Tulisan ini sengaja aku buat untuk mengenang perjuangan yang pernah aku lalui selama menjadi mahasiswa di kampus ITB. Karena suatu saat ketika kita telah tiada, tulisan akan tetap bisa dibaca, diambil hikmahnya, dan menjadi pelajaran bagi pembacanya.

Kita mulai memasuki mesin waktu untuk kembali ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2015. Sebentar, sebenarnya untuk kisah perjuanganku masuk ke kampus itu sudah pernah aku tuangkab pada tulisan yang lain. Boleh dibaca dulu kapan-kapan di sini. Oke, kisah ini bermula sekitar awal 2015. Aku sudah membulatkan tekad untuk melanjutkan kuliah di STEI ITB. Kenapa? Ya pastinya karena aku dari SMP sudah suka hal yang berbau IT dan komputer. Lalu dil teranjutkan sejak masuk SMA aku sudah berkecimpung di ekskul tentang informatika/komputer. Dengan tekat yang sudah bulat, ditambah hasil explore berkaitan dengan ITB dan STEI, makin menumbuhkan rasa ingin masuk ke kampus itu. Tanpa dipungkiri bahwa rasa prestise STEI ITB yang terkenal jurusan paling susah dan terbaik di Indonesia. Apalagi di bimbel-bimbel saat itu ia punya passing grade paling tinggi. Pada awal tahun itu, mungkin sekitar Februari, aku mulai belajar mati-matian untuk bisa lolos lewat ujian tulis. Namun, sekitar bulan Maret aku tersadar bahwa persiapanku masih sangat kurang dan waktu yang tersisa terlalu sedikit menuju jadwal ujian tulis. Dilema mulai menghantui, tapi rasa ingin itu tidak hilang. Aku tetap lanjutkan belajar, setidaknya bisa dijadikan bekal untuk ujian nasional. Saat itu aku sudah sadar bahwa ujian nasional berbeda dengan ujian masuk PTN, yang satu bersifat evaluasi dan satunya lagi bersifat seleksi. Perbedaan ini rasanya sudah pernah aku bahas di tulisan yang lain.

Sampai ke waktu ujian tulis PTN, aku dapat lokasi di dalah satu SMP yang aku tidak terlalu familiar. Namun, saat itu aku ketemu beberapa teman SMA ku yang juga ikut ujian di lokasi itu. Ujian pun dilakukan. Ya, sesuai prediksi, amunisi ku memang kurang untuk perang yang satu ini. Bahkan sebelum ujian dimulai, aku telah tau medan perang yang akan aku lalui, dan sejauh mana kesiapan amunisiku. Pulang ke rumah pun dengan rasa lelah, dan harus menerima kenyataan. Waktu pengumuman pun tiba. Lagi-lagi sesuai prediksi, aku memang belum lolos. Saat itu rasanya bukan sedih yang mendalam, tapi lebih ke hampa dan kesal. Karena aku sadar kurang persiapan. Lalu dengan mimpi STEI ITB? Aku tidak padam. Rasa penasaran untuk menaklukkan kampus terbaik dan jurusan terbaik itu masih menyala dan membara. Aku bulatkan tekad untuk berjuang sekali lagi di tahun depan. Aku punya satu tahun untuk mengasah kemampuan dan mempersiapkan amunisi di perang yang sama tapi dengan kondisi yang berbeda. Tentu tak sama berjuang sebagai lulusan SMA dan gap year. Waktu persiapan lebih, beban di pundak yang juga lebih.

Perjuangan yang sebenarnya dimulai. Saat itu sekitar September 2015, aku mulai menyusun rencana belajar. Mulai dari materi yang harus dipelajari dari semua mata pelajaran yang diujikan, list soal yang akan dijadikan latihan, dan metode serta jadwal belajar harian. Aku ingat saat itu aku buat jadwal harian 24 jam, jadi kapan aku belajar dan istirahat, dengan penuh warna berbeda untuk setiap mata pelajarannya. Ah, sayangnya file itu sudah tidak ketemu lagi. Karena saat kuliah sempat aku mencari lagi untuk dijadikan referensi, bahkan saat ini masih ingin rasanya menjadikan referensi. Oh iya, disamping belajar mandiri, aku juga daftar bimbel khusus untuk alumni. Pikirku bisa mengisi waktu di samping belajar mandiri di rumah, yang tentunya pasti akan bosan juga kalau di rumah saja. Hari demi hari aku lalui seperti itu, belajar, latihan soal, review, dan ulangi lagi. Waktu demi waktu berlalu, sering aku menghitung “wah tinggal 8 bulan lagi”, “wah tinggal 6 bulan lagi”, dan seterusnya. Di setiap bulan yang aku lalui, rasanya selalu belum optimal. Namun aku juga pernah baca, semakin kita mempelajari, semakin banyak rasanya kita tidak tau. Terpenting, terus pelajari dan jangan pernah berhenti. Dan satu lagi, dengan pola belajar yang terus-terusan, kadang hingga larut malam, kadang mulai dari pagi buta, akhirnya membuat rasa lapar meningkat dan makanpun solusinya. Hasilnya, ya pastinya berat badan ikut naik. Pengalaman berharga.

Waktu perang pun tiba, rasa-rasanya pada 30 Mei 2016, aku dapat lokasi ujian yang berbeda dibanding satu tahun sebelumnya. Tahun lalunya di arah Timur (atas) dan sekarang di arah Utara (bawah). Tentunya satu hari sebelumnya aku sudah survei medan perangku hingga dimana persisnya aku akan duduk esok hari. Hari H tiba, doa dan berangkat menuju lokasi. Panitia masuk memberi pengarahan, dan ujian dimulai. Sesi pertama TKPA, aku dapat menjawab lumayan banyak, walaupun rasanya masih kurang puas. Di sesi kedua Saintek, aku menjawab lebih berhati-hati dan hanya menjawab yang benar-benar yakin, karena ini ujian seleksi dan ada sistem minus. Selesai ujian, rasanya lumayan puas, dan berbanding terbalik dari tahun sebelumnya yang langsung lelah. Setelah ujian aku masih sempat untuk cek kembali beberapa soal. Hari-hari berikutnya banyak bimbel yang memberi pembahasan dan prediksi skor. Ntahlah, apa ikut membahas dan input skor untuk prediksi, yang jelas usaha sudah dilalui, kini saatnya serahkan kepada semesta.

Hari pengumuman pun tiba, rasanya jam 4 atau 5 sore. Dengan rasa deg deg dan mulut yang terus berdoa, aku buka halamannya. Biasalah, sistem pasti antri karena diakses oleh banyak orang disaat bersamaan. Akhirnya, halaman hasil terbuka.. dan kini ucapannya “Selamat… STEI ITB” dengan warna hijau tentunya. Wah, saat itu perasaan yang luar biasa tidak pernah kurasakan sebelumnya. Akhirnya aku mendapatkan Golden Ticket ku. Tidak menyangka aku akan segera menginjakkan kaki di kampus yang aku impikan itu, yang harus sabar menunggu satu tahun penantian dengan penuh perjuangan.

Kampus Ganesha, ya di Jalan Ganesha no. 10, akan menjadi pelabuhan baruku. STEI ITB, I’m coming.

Tulisan ini akan berlanjut di part selanjutnya. Perjalanan masih panjang.

Dunia Memang Tempat Capek

Dunia memang selalu menjadi tempat capek. Karena pada sifatnya hanya sementara. Hanya untuk mencari bekal ke kehidupan yang abadi nantinya. Kalau tidak ingin capek? Ya pulang. Sabar, semua capek itu akan hilang.

Kadang apa yang kita inginkan di dunia ini terlalu kecil, sehingga kita lupa akan tujuan kita sebenarnya. Dan ketika kita terlalu berharap pada sesuatu di dunia ini, maka semesta seringkali tak mengabulkan harapan itu. Malah, apa yang tidak kita harap atau bahkan tak terlintas di pikiran kita, itulah yang kita dapat. Memang, semesta kadang sebercanda itu.

Aku pernah mendengar sebuah kisah. Ada seseorang yang menginap di sebuah hotel untuk hanya beberapa hari. Lalu, orang ini memanggil tukang kayu, arsitek, dan desainer untuk mendekor ulang kamar hotelnya tersebut. Meminta merombak kamarnya, mengganti barang-barang yang ada di kamarnya itu. Kamar yang pada dasarnya hanya akan ditempati untuk beberapa hari. Orang ini menghabiskan uang yang begitu banyak dan waktu yang terkuras. Lalu, ketika kamar hasil renovasinya selesai, dia bersiap untuk check-out dari hotel tersebut. Hasilnya, ia tak sempat lama merasakan kamar barunya itu. Sungguh sia-sia.

Apa sebenarnya hikmah dari kisah tersebut? Ya, kesia-siaan dan tak berguna. Itulah ibarat kita hidup di dunia yang fana ini. Kita hanya mampir sebentar. Kalau kita sibuk dengan perhiasan dunia ini maka kita akan terlena dan lupa apa tujuan kita sebenarnya. Kita sering terfokus untuk mengejar kesenangan sesaat dan lupa kesenangan yang abadi. Semoga kita tidak termasuk seperti orang yang datang ke hotel dan merenovasi kamarnya hanya untuk beberapa hari tersebut.

Dan satu lagi, jangan pernah berharap lagi menggantungkan harapan pada suatu apapun di dunia ini. Karena semesta akan cemburu terhadap hal itu dan yang kita dapat hanya kekecewaan.

Saat Kau Harus Merelakan

Terkadang aku berpikir hidup tidak selalu berpihak. Aku berusaha. Aku berdoa. Namun, hasilnya tidak kelihatan. Atau malah semua itu salahku? Aku lah yang terlalu berharap kepada kehidupan yang sempurna. Atau berharap kepada manusia lain untuk membuat hidupku menjadi sempurna? benar-benar melelahkan pengharapan ini. Apakah memang salah jika kita membuat suatu pengharapan yang variabel bebasnya tidak dapat kita kontrol?

Ya, aku benar-benar salah dalam semua ini. Pengharapan lah yang menghancurkan segalanya. Kau berharap kehidupan yang baik dan sempurna. Padahal bukan begitu kerja kehidupan. Hidup adalah suatu momen yang harus dinikmati, bukan diharapkan ini itu. Kau lah yang bertugas menikmatinya, maka kehidupan yang baik itu akan mengikuti dengan sendirinya.

Di saat kau tau pedihnya pengharapan, sudah saatnya kau harus merelakan, melepaskan, dan mengiklaskan. Lepaskan semua yang ada dalam bayang-bayang kepala mu. Yang kau pikirkan hanya ilusi. Kita lah maestro kehidupan ini. Kau yang bertugas untuk mengatur kehidupan mu sendiri. Tidak orang lain. Tak akan pernah.

Jadi, jangan pernah menggantungkan harapanmu pada kehidupan apalagi pada manusia lain yang juga berharap pada hidup. Kalau kau yakin adanya Tuhan, Sang Pengatur Kehidupan, sudah saatnya kau serahkan semuanya kepada-Nya. Dan lakukan porsimu. Nikmati hidupmu sesuai kadarnya. Sisanya biar semesta yang bekerja.

Dima Bumi Dipijak, Disitu Langik Dijunjuang

When in Rome, do what Romans do.

Saya pernah mendengar kutipan itu saat belajar di sekolah dulu. Ternyata, kutipan itu juga sesuai dengan pepatah Minang yang ada pada judul tulisan ini. Bagaimana makna sebenarnya? Dalam pandangan saya, ketika kita datang ke sebuah daerah, maka kita harus menyesuaikan kondisi apa yang ada pada daerah tersebut. Misal, ketika kalian berada di daerah Minangkabau, maka gunakanlah rasa, sesuai petitih di Minang yaitu raso jo pareso yang artinya orang Minang sangat mengedepankan perasaan. Ketika kalian berada di Eropa, misalnya Jerman, yang saya tahu orang di sana tidak akan menggangu kita asalkan kita juga tidak menggangu mereka.

Nah, tapi makna ‘daerah’ dari kutipan tersebut rasanya lebih luas. Bukan hanya daerah secara denotasi. Lebih daripada itu, dimanapun kita memandang ‘daerah’ tersebut, hal ini akan berlaku. Misal, ketika kita masuk dalam suatu kelompok, maka ikutilah aturan atau budaya yang ada pada kelompok itu. Jangan kita buat budaya sendiri yang belum tentu orang di sana akan menerimanya. Ikutilah terlebih dahulu, karena bagaimanapun kita yang baru datang atau bergabung ke ‘daerah’ terdebut. Jangan membuat pemilik rumah menyesuaikan keinginan tamu. Tapi, jadilah tamu yang mengerti kondisi tuan rumah.

Jalan Tanpa Arah

Lagi lagi aku berjalan menyusuri hamparan jalan tanpa arah. Aku rasa aku telah melewati jalan ini berkali-kali. Tampak sama atau memang sama persis? Tapi aku tetap kembali menyusuri jalan ini. Oh Tuhan, kemana Engkau bawa hamba-Mu ini? Atau jangan-jangan aku yang mengabaikan jalan yang telah Engkau arahkan?

Kabut namun kadang cerah. Jalan ini serasa melelahkan, walaupun terkadang di perjalanan ada telaga sesaat yang menyegarkan namun kemudian hilang menguap di ruang hampa. Air dari telaga ini lah yang masih membuatku optimis melanjutkan perjalanan. Tapi apakah ini perjalanan yang realistis hanya karena ada telaga sesaat? Atau aku harus kembali? Untuk kembali pun aku tidak tau ke mana arahnya. Oh Tuhan, aku tersesat.

Untuk kali ini, berikanlah arahan-Mu. Atau aku semakin sia-sia berjalan, jalan tanpa arah.